Magetan, PR Politik – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Timur resmi memanaskan mesin kemanusiaannya dengan menggelar Latihan Dasar Pandu Keadilan (LPK) Angkatan XV. Agenda spartan yang dipusatkan di Camp Bukit Sarangan, Kabupaten Magetan, ini digulirkan secara maraton pada 12-16 Juni 2026.
Pelatihan yang diikuti oleh barisan kader militan dari berbagai yurisdiksi daerah di Jawa Timur tersebut diarsiteki khusus untuk mengunci ketahanan mental, kekuatan fisik, serta kecakapan teknis kerelawanan sebelum diterjunkan ke medan pengabdian masyarakat.
Ketua DPW PKS Jawa Timur, Bagus Prasetia Lelana, menegaskan bahwa LPK bukan sekadar agenda pelatihan lapangan atau seremonial luar ruangan biasa. Forum ini bertindak sebagai kawah candradimuka untuk menginkubasi karakter kepemimpinan kader agar siap menjinakkan berbagai tantangan sosiologis di akar rumput.
“LPK ini merupakan sarana untuk menguatkan mental dan fisik kader. Seorang kader harus siap menerima amanah dan tugas dalam kondisi apa pun. Ketangguhan mental dan fisik yang dibangun dalam pelatihan ini pada akhirnya harus kembali untuk pelayanan kepada rakyat,” urainya saat memimpin pengarahan di Magetan.
Ia menganalisis bahwa seorang kader PKS haram hukumnya jika hanya dibekali kapasitas intelektual dan kemahiran manajerial organisasi yang kaku. Di era disrupsi ini, kader dituntut mengantongi daya tahan (endurance) yang tinggi, kedisiplinan baja, serta kerelaan berkorban demi memulihkan konjungtur sosial masyarakat yang terhimpit masalah.
“Ketika masyarakat membutuhkan bantuan, kader harus hadir. Ketika ada persoalan di tengah rakyat, kader harus siap turun tangan. Karena itu, penguatan mental dan fisik menjadi kebutuhan yang sangat penting,” cetusnya melempar doktrin pergerakan partai.
Langkah pengetatan kompetensi ini diambil sebagai langkah mitigasi risiko yang terukur. Ia membeberkan draf geografis Jawa Timur yang secara historis bertengger di zona merah kerawanan bencana alam yang tinggi, mulai dari ancaman banjir bandang, tanah longsor, sengketa seismik gempa bumi, hingga erupsi gunung berapi aktif.
“Kami ingin kader-kader PKS memiliki kemampuan dasar kerelawanan yang memadai. Ketika terjadi bencana, mereka siap diterjunkan untuk membantu masyarakat, berkolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pihak dalam proses penanganan maupun pemulihan,” jelasnya.
Selama lima hari dikurung dalam atmosfer pelatihan yang ketat, barisan peserta diguyur dengan menu pembekalan hibrida yang padat, mencakup materi kepemimpinan, internalisasi kedisiplinan organisasi, penguatan kerja sama tim (teamwork), tata kelola manajemen lapangan, hingga keterampilan dasar penanggulangan kebencanaan. Berbagai simulasi kedaruratan juga dieksekusi secara real-time untuk melatih kecepatan respons (response time) peserta saat menghadapi situasi kritis.
Ia menandaskan bahwa esensi sejati dari gerakan kepanduan PKS tidak boleh direduksi sekadar pada aspek ketangkasan fisik otot semata, melainkan harus bertumpu pada pembangunan moral pelayanan yang humanis.
“Kader yang kuat bukan hanya yang mampu bertahan dalam medan yang berat, tetapi juga yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama. Karena itu, setiap latihan yang dijalani harus bermuara pada meningkatnya manfaat bagi masyarakat,” tegas pimpinan PKS Jatim tersebut.
Melalui penutupan forum LPK Angkatan XV ini, jajaran alumni pelatihan diproyeksikan langsung bermutasi menjadi dinamo penggerak aksi sosial dan pelopor kerelawanan di daerah asal masing-masing, sekaligus berdiri kokoh di garda terdepan sebagai problem solver saat krisis menghantam warga.
“Melalui LPK ini, kami ingin melahirkan kader-kader yang tangguh, disiplin, siap melayani, dan siap menjadi relawan kemanusiaan kapan pun dibutuhkan. Sebab sebaik–baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya menutup laporannya dengan optimis guna mengunci tingkat kepercayaan (public trust) publik secara akuntabel.
sumber : PKS















