Jakarta, PR Politik – Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan kehormatan dari Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), yang tampak didampingi oleh Solihin Jusuf Kalla di Istana Merdeka, Jakarta. Pertemuan tingkat tinggi tersebut difokuskan pada pembahasan taktis mengenai percepatan pembangunan infrastruktur pembangkit listrik berbasis energi bersih guna memperkokoh benteng ketahanan energi nasional sekaligus mengawal target pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dalam keterangannya di hadapan media pasca-pertemuan, ia memaparkan bahwa dialog bersama kepala negara didominasi oleh strategi peningkatan kapasitas energi domestik. Penguatan sektor ini dinilai menjadi salah satu prasyarat mutlak untuk merealisasikan visi swasembada energi serta menjaga ritme pembangunan jangka panjang.
“Saya dengan Solihin baru saja berbicara lama dengan Bapak Presiden didampingi juga oleh Pak Sekneg dengan Pak Seskab untuk meningkatkan kemampuan energi di Indonesia yang kita kenal itu swasembada energi. Kita siap untuk, kita sudah membangun 1.500 mega(watt) PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) ini kita siap membangun lagi 2.000 mega(watt) termasuk juga PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas),” ungkapnya membeberkan cetak biru ekspansi energinya.
Ia menganalisis bahwa kurva kebutuhan listrik nasional dipastikan bakal melonjak tajam seiring dengan target agresif peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) yang dipatok oleh pemerintah pusat. Atas dasar itu, modernisasi dan perluasan jaringan green energy bertindak sebagai langkah mitigasi yang krusial agar pasokan daya untuk sektor manufaktur, industri makro, maupun wilayah pemukiman warga tidak mengalami defisit.
“Karena kita melihat bahwa untuk pertumbuhan ke negara 5-6 persen, sampai 8 persen itu butuh energi luar biasa banyaknya. Karena itu tanpa energi itu kita akan sulit untuk meningkatkan itu, karena itu Bapak Presiden setuju untuk segera kita bangun energi nasional khususnya green energy untuk menjadi bagian daripada pembangunan nasional, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang disampaikan oleh Bapak Presiden sampai 8 persen, sekarang 5-6 persen, karena itu butuh energi yang kuat seperti itu,” imbuh tokoh senior asal Makassar tersebut.
Lebih mendalam, ia membongkar bahwa mega proyek hibrida ini diperkirakan bakal menelan draf nilai investasi raksasa yang menyentuh angka kisaran Rp60 triliun hingga Rp70 triliun. Ia memberikan garansi bahwa seluruh pemetaan wilayah strategis serta draf rancang bangun fisik (engineering design) telah rampung dikunci, sehingga langkah berikutnya tinggal menyelaraskan koridor teknis dan regulasi legal.
“Desain sudah ada, tempat sudah ada, tinggal pembicaraan dengan teknisnya dan beliau, Bapak Presiden setuju untuk segera kita realisir seperti itu. Karena memang bisnisnya karena investasi,” katanya menegaskan kesiapan operasional konsorsiumnya di lapangan.
Selain mengupas tuntas urusan dapur logistik energi dalam negeri, sirkuit pertemuan di Istana Merdeka ini juga dimanfaatkan oleh Presiden Prabowo dan Jusuf Kalla untuk saling bertukar pikiran mengenai geopolitik global. Kedua tokoh bangsa ini terpantau membedah perkembangan dinamika rekonsiliasi perdamaian di koridor Thailand Selatan, serta fluktuasi stabilitas keamanan yang tengah bergulir di kawasan Asia Selatan, khususnya Pakistan dan Afghanistan.
Kehadiran Menteri Sekretaris Negara dan Sekretaris Kabinet dalam ruang diskusi seolah mengirimkan sinyal kuat bahwa kesepakatan investasi ini akan segera dieksekusi secara bersih dan akuntabel demi kemaslahatan publik.
sumber : Kemensetneg RI















