Jakarta, PR Politik – Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Anton Sukartono Suratto, mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret menyusul insiden ledakan yang kembali melukai prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon.
Dalam peristiwa terbaru tersebut, tiga prajurit Indonesia dilaporkan mengalami luka-luka, dengan dua di antaranya dalam kondisi serius.
Anton menegaskan bahwa keselamatan prajurit harus menjadi prioritas utama, mengingat mereka tengah menjalankan tugas kemanusiaan sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Atas kejadian yang menimpa prajurit kita, tentunya harus ada tindak lanjut segera untuk mengutamakan keselamatan prajurit TNI yang sedang menjalankan tugas sebagai pasukan penjaga perdamaian Indonesia di Lebanon,” ujar Anton.
Ia juga mengecam keras serangan yang menyebabkan korban di kalangan pasukan perdamaian. Menurutnya, tindakan tersebut tidak hanya membahayakan keselamatan prajurit, tetapi juga melanggar norma hukum internasional yang menjamin perlindungan terhadap pasukan non-kombatan.
Anton menekankan bahwa kehadiran TNI dalam misi UNIFIL bukan untuk terlibat dalam konflik bersenjata, melainkan untuk menjaga stabilitas dan mendukung proses perdamaian di kawasan.
“Pasukan Indonesia hadir bukan untuk berperang, melainkan untuk menjaga stabilitas dan mendukung proses perdamaian. Mereka adalah duta bangsa dalam misi kemanusiaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyatakan sejalan dengan pandangan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, bahwa kondisi keamanan di wilayah penugasan UNIFIL yang kian tidak kondusif harus menjadi perhatian serius pemerintah.
Anton mendorong pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keberlanjutan misi, termasuk mempertimbangkan opsi pemindahan lokasi penugasan ke wilayah yang lebih aman hingga penghentian sementara operasi.
“Tindakan tegas sebagai bentuk pengutamaan keselamatan prajurit perlu segera dilakukan, seperti pemindahan lokasi penugasan atau penghentian sementara misi,” katanya.















