Ekspor Kriya Tumbuh 15 Persen, Kemenperin Fasilitasi IKM Kerajinan Unjuk Gigi di Ajang Home InStyle Hongkong

Jakarta, PR Politik – Industri kerajinan nasional terus memantapkan posisinya sebagai salah satu sektor strategis yang memadukan kreativitas, warisan budaya, dan kekuatan ekonomi. Guna memperluas penetrasi pasar global, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memfasilitasi tiga Industri Kecil dan Menengah (IKM) terpilih untuk berpartisipasi dalam pameran internasional bergengsi, Home InStyle 2026, yang akan digelar di Hongkong pada 27–30 April mendatang.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa sektor kerajinan bukan sekadar penopang ekonomi, melainkan representasi identitas bangsa di mata dunia.

“Industri kerajinan tidak hanya menjadi penopang ekonomi masyarakat, tetapi juga duta budaya Indonesia di pasar global,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Senin (11/3).

Langkah pemerintah mendorong IKM ke kancah internasional didasari oleh performa ekspor yang impresif. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, nilai ekspor kerajinan Indonesia mencapai USD 806,63 juta. Angka ini mencerminkan pertumbuhan signifikan sebesar 15,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kinerja ekspor kerajinan yang terus menunjukkan tren positif harus kita jaga dan harus bisa lebih ditingkatkan. Oleh karenanya, pemerintah mendorong IKM agar semakin terintegrasi dalam rantai pasok global melalui penguatan kualitas produk, inovasi desain, dan perluasan akses pasar,” jelasnya.

Pameran Home InStyle yang dikelola oleh Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) diproyeksikan menarik sekitar 100.000 pembeli global dari 131 negara, menjadikannya platform strategis untuk menjalin kerja sama business-to-business (B2B).

Melalui proses kurasi ketat oleh Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK), terpilih tiga IKM yang akan menempati area eksklusif Cultural and Creative Avenue:

  1. Manamu: Memamerkan kerajinan tenun tangan kawat baja khas Sumba Timur (lulu amah) dengan sentuhan desain kontemporer.

  2. Kampoeng Anyaman: Menampilkan produk anyaman daun pandan buatan tangan yang mengusung prinsip keberlanjutan lingkungan.

  3. Koto Batu: Menonjolkan perhiasan batu mulia alami (natural gemstones) dengan estetika modern dan filosofi yang kuat.

Baca Juga:  Wamenpar Ni Luh: Pembangunan Pariwisata Indonesia Prioritaskan Keberlanjutan Lingkungan

Kepala BPIFK, Dickie Sulistya Aprilyanto, menjelaskan bahwa fasilitasi ini merupakan implementasi dari konsep ekosistem industri 3C (Create, Connect, Catalyze).

“Partisipasi ini memperkuat ekosistem industri BPIFK melalui konsep 3C, khususnya pada aspek Connect, yaitu memperluas akses pasar ekspor dan jejaring kemitraan internasional. Kami berkomitmen untuk terus mendorong IKM binaan agar mampu naik kelas, berorientasi ekspor, dan berdaya saing di pasar dunia,” pungkasnya.

sumber : Kemenperin RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru