Jakarta, PR Politik – Ketersediaan pangan global yang kian terbatas menjadi sorotan serius anggota Komisi IV DPR RI, Riyono. Ia mengingatkan bahwa krisis pangan dapat bertransformasi menjadi krisis politik apabila suatu negara gagal mengelola stok, harga, dan distribusi pangan secara tepat hingga ke tingkat masyarakat.
Menurutnya, saat ini negara-negara produsen pangan cenderung menjaga ketat stok pangan mereka demi kepentingan dalam negeri. Kondisi ini memperparah ketimpangan pangan dunia, di mana negara-negara besar semakin mendominasi pasar global, sementara negara kecil terjepit oleh harga impor yang terus melambung.
“Kegagalan dunia dikonfirmasi melalui MDGs yang gagal menghilangkan kelaparan global karena tatanan pangan dunia tidak ada keadilan di sana, negara besar ‘mencekik’ negara kecil dengan impor yang semakin naik harganya,” ujar Riyono.
Mengutip laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) tahun 2024, Riyono menjelaskan bahwa sekitar 282 juta orang di 59 negara dan wilayah mengalami kelaparan akut tingkat tinggi. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya, seiring dengan makin luasnya cakupan laporan terkait krisis pangan global. Bahkan, sebanyak 1,33 juta orang disebut berada dalam kondisi kelaparan.
“Data FAO 2024 kelaparan global pada tahun 2024 menunjukkan bahwa sekitar 282 juta orang di 59 negara dan wilayah mengalami kelaparan akut tingkat tinggi. Ini merupakan peningkatan dari tahun sebelumnya, terutama disebabkan oleh meningkatnya cakupan laporan tentang krisis pangan. Selain itu, 1,33 juta orang di seluruh dunia mengalami kondisi kelaparan,” papar Riyono.
Ia menilai kondisi tersebut sangat ironis, terutama di era yang secara teknologi telah memudahkan segala hal dan nyaris menghapus sekat antarnegara. Karena itu, ia menyerukan kepada seluruh elemen global untuk menjadikan isu akses pangan sebagai prioritas yang adil bagi semua bangsa.
“FAO sebagai wasit yang mengatur dan mengerti kondisi pangan dunia harusnya bisa berperan lebih kuat dan selaras untuk menyukseskan misi SDGs menghentikan kelaparan dunia,” tambah Riyono, yang dikenal dengan sapaan ‘Caping’.
Di tengah ketidakpastian global, Indonesia justru mencatatkan capaian penting. Hingga Mei 2025, stok beras nasional berhasil mencapai angka 4 juta ton setara beras. Capaian ini disebut Riyono sebagai bukti bahwa Indonesia mampu bertahan bahkan saat kawasan regional tengah bergolak akibat fluktuasi harga pangan.
Ia mencontohkan kondisi Jepang dan Malaysia yang sedang menghadapi gejolak harga beras. Bahkan, Menteri Pertanian Jepang memilih mundur karena pernyataannya dianggap tidak sensitif terhadap krisis beras di negaranya.
“Indonesia bisa menjadi pemain kelas dunia jika mampu optimalkan tata kelola pangan nasional yang presisi dan berkelanjutan. Bahkan bisa melakukan ekspor pangan beras ke negara tetangga dan bahkan dunia,” tutup Riyono.
Sumber: fraksi.pks.id















