Gun Gun Heryanto: Gaya Koboi Purbaya, Antara Strategi Komunikasi dan Risiko Ekspektasi Publik

Pakar komunikasi politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Gun Gun Heryanto

Jakarta, PR Politik — Pakar komunikasi politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Gun Gun Heryanto, menilai gaya komunikasi Menteri Keuangan Purbaya yang belakangan mencuri perhatian publik menunjukkan dinamika baru dalam pola komunikasi pejabat publik di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Hal tersebut ia sampaikan dalam program Apa Kabar Indonesia Pagi di TV One, bertajuk “Gaya Koboi Purbaya, Instruksi Presiden?”

Menurut Gun Gun, gaya komunikasi Purbaya yang lugas, tegas, dan ceplas-ceplos bukan tanpa restu politik. Ia menyebut bahwa komunikasi semacam itu hampir pasti mendapatkan “lampu hijau” dari presiden.

“Kalau tidak ada lampu hijau, pasti sudah disemprit sejak awal. Artinya, gaya Purbaya ini bukan berdiri sendiri,” ujar Gun Gun.

Ia menjelaskan bahwa fenomena komunikasi Purbaya dapat dilihat dari tiga dimensi: pesan, impresi, dan substansi. Pesan dan impresi gaya komunikasinya, menurut Gun Gun, berhasil menarik perhatian publik karena relevan dengan konteks sosial ekonomi saat ini. Namun, ia mengingatkan agar publik tetap menaruh sikap skeptis terhadap substansi kebijakan yang disampaikan.

“Jangan larut dalam euforia kolektif. Kita perlu menyiapkan ruang skeptis. Nanti akan dinilai baik jika hasilnya benar-benar berkorelasi dengan ucapannya,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gun Gun menyebut gaya komunikasi Purbaya memadukan dua karakter sekaligus, yakni dynamic style dan equalitarian style. Kombinasi ini membuat komunikasinya terasa kuat namun tetap membumi di telinga masyarakat.

Dynamic itu lugas, tegas, asertif—itulah yang sering disebut gaya ‘koboi’. Tapi di sisi lain, Purbaya juga memiliki gaya equalitarian yang membuat bahasanya mudah dipahami publik. Diksi dan retorikanya sederhana, mudah dikunyah, dan mudah didiseminasikan,” jelas Gun Gun.

Gun Gun menilai, cara komunikasi Purbaya telah bergeser dari pola lama yang bersifat one-to-many communication (satu arah dan formal), menuju many-to-many communication yang interaktif dan cepat menyebar lewat media sosial.

Baca Juga:  Founder PR Politik Heryadi Silvianto, Tekankan Etika dalam Lobi dan Negosiasi

“Potongan ucapannya cepat viral karena publik merasa terlibat. Ini membantu komunikasi publik pemerintah, meski berisiko. Sebab, jika ekspektasi publik membumbung dan hasilnya tidak sesuai, yang muncul justru kekecewaan,” tambahnya.

Terkait adanya pihak yang menilai Purbaya dijadikan “kambing hitam” atas kinerja kementerian ekonomi, Gun Gun menilai hal itu sebagai pandangan yang keliru.

“Sistem birokrasi itu saling bergantung. Purbaya tidak bisa bekerja sendirian. Kalau satu bagian berubah, bagian lain juga harus menyesuaikan. Kalau tidak, sistemnya bisa rontok,” ujarnya.

Gun Gun juga menilai langkah Purbaya sebagai game changer yang mencoba memecah stagnasi ekonomi. Meski demikian, posisi tersebut menurutnya tidak lepas dari risiko turbulensi opini publik. Ia menilai langkah cepat Purbaya yang meminta maaf ketika menuai kritik merupakan cerminan etika komunikasi publik yang baik.

“Respons cepatnya memperbaiki kesalahan menunjukkan kecakapan etik. Setelah itu, ia bangkit dengan narasi teknokratis yang justru meningkatkan kembali kepercayaan publik,” katanya.

Gun Gun menyoroti bahwa salah satu kelebihan Purbaya adalah keberaniannya menyampaikan tolok ukur kinerja secara terbuka, seperti janji kenaikan pertumbuhan ekonomi dalam enam bulan ke depan.

“Ia menggunakan pendekatan service level agreement. Artinya, menyampaikan target dan ukuran kerja secara eksplisit di hadapan publik. Nanti publik sendiri yang menilai apakah target itu tercapai,” terangnya.

Meski mengapresiasi keberanian dan keterbukaan tersebut, Gun Gun mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menyimpulkan keberhasilan Purbaya.

“Jangan jumping conclusion. Kita nilai nanti setelah enam bulan. Kalau targetnya tercapai dan sesuai ekspektasi publik, baru bisa disebut Purbaya on the right track,” pungkasnya.

Bagikan: