Jakarta, PR Politik – Keberangkatan ke luar negeri untuk bekerja seharusnya menjadi pintu harapan, bukan justru menghadirkan risiko bagi pekerja migran. Namun dalam praktiknya, masih terdapat berbagai persoalan yang muncul sejak tahap awal penempatan, mulai dari informasi yang tidak transparan hingga perlindungan yang belum optimal.
Kondisi tersebut menegaskan bahwa pengawasan terhadap proses penempatan pekerja migran tidak bisa dipandang sebelah mata. Anggota Komisi IX DPR RI, Ranny Fahd Arafiq, mengingatkan bahwa seluruh tahapan penempatan harus berjalan sesuai ketentuan dan berorientasi pada perlindungan pekerja sejak dari dalam negeri.
“Banyak persoalan justru muncul dari awal proses. Kalau dari awal sudah tidak jelas, risikonya akan terbawa sampai ke tempat kerja,” ujarnya.
Di lapangan, praktik penempatan yang tidak sepenuhnya transparan masih kerap ditemukan. Permasalahan tersebut meliputi ketidaksesuaian kontrak kerja, ketidakjelasan biaya penempatan, hingga minimnya pemahaman pekerja terkait hak dan kewajibannya.
Situasi ini menunjukkan bahwa pengawasan tidak cukup dilakukan ketika pekerja telah berada di luar negeri. Sebaliknya, pengawasan harus dimulai sejak proses rekrutmen, pelatihan, hingga tahap keberangkatan.
“Pengawasan itu harus menyeluruh. Dari sebelum berangkat sampai mereka bekerja di luar negeri,” lanjutnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga agar proses penempatan tidak berjalan secara parsial. Dengan sistem yang terintegrasi, potensi pelanggaran dapat ditekan dan perlindungan terhadap pekerja migran menjadi lebih optimal.
Di satu sisi, kebutuhan tenaga kerja di luar negeri tetap membuka peluang ekonomi yang signifikan. Namun di sisi lain, aspek perlindungan pekerja harus tetap menjadi prioritas utama agar tidak ada pihak yang dirugikan dalam proses tersebut.
Bagi Ranny Fahd Arafiq, bekerja di luar negeri seharusnya memberikan rasa aman bagi pekerja migran, bukan justru menimbulkan risiko baru. Jika proses sejak awal tidak berjalan dengan baik, maka dampaknya akan dirasakan pekerja dalam jangka panjang.















