Tokyo, PR Politik – Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Maria Renata Hutagalung, menerima kunjungan 18 peserta Indonesian Young Farm Leaders Training Program in Japan (IYFLTPJ) angkatan ke-41 di KBRI Tokyo, Kamis (19/2). Program ini menjadi pilar strategis dalam mencetak pemimpin pertanian muda yang mampu menguasai teknologi modern dan manajemen agribisnis kelas dunia.
Dalam sambutannya, Maria Renata menegaskan bahwa para peserta memegang mandat besar untuk membawa pulang ilmu yang didapat guna memodernisasi sektor pertanian di tanah air.
“Melalui program ini, para petani muda Indonesia diharapkan dapat mengembangkan praktik pertanian modern yang telah dipelajari di Jepang untuk diterapkan di tanah air, termasuk dalam peningkatan produksi hasil pertanian berkualitas tinggi serta penguatan agribisnis,” ujarnya.
Diplomat senior ini menekankan bahwa peningkatan kualitas dan produktivitas melalui pelatihan ini merupakan kunci untuk memperluas penetrasi pasar internasional. KBRI Tokyo berkomitmen penuh mendukung kerja sama ini agar komoditas Indonesia mampu menembus standar ketat pasar Jepang.
Peserta program ini tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga menjalani on the job training selama satu tahun dengan tinggal langsung bersama host farmer di Jepang. Mereka juga mendapatkan pelatihan khusus pengoperasian mesin pertanian yang difasilitasi oleh kementerian pertanian Jepang (MAFF).
Program Coordinator JAEC, Zuhaira Dzaatul Himmah, mengakui bahwa meski para peserta sempat terkendala adaptasi budaya, mereka menunjukkan kemajuan pesat. Sejak dimulai lebih dari 40 tahun lalu, program ini telah melahirkan 650 alumni yang kini tergabung dalam Ikatan Alumni Magang Jepang (IKAMAJA).
Banyak dari alumni tersebut kini sukses menjadi pelopor di daerah masing-masing serta membina Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S). Oleh karena itu, Maria Renata meminta adanya evaluasi berkala untuk mengukur dampak nyata para alumni terhadap pembangunan sektor pertanian nasional.
Kunjungan ini ditutup dengan harapan besar agar para farm leaders ini dapat menjadi katalisator bagi transformasi pertanian tradisional menuju pertanian cerdas (smart farming) yang lebih efisien dan menguntungkan.
sumber : Kemlu RI















