Jakarta, PR Politik – Sektor industri manufaktur Indonesia menunjukkan sinyal pemulihan pada awal semester kedua 2025. Hal ini tercermin dari laporan S&P Global yang menunjukkan kenaikan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia menjadi 49,2 pada bulan Juli. Angka ini naik 2,3 poin dari bulan sebelumnya dan melampaui PMI beberapa negara lain seperti Jepang, Prancis, dan Korea Selatan. Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arief, menyatakan bahwa perbaikan PMI ini mencerminkan optimisme pelaku industri.
“PMI naik karena beberapa minggu terakhir terdapat dinamika kebijakan yang membuat pelaku industri lebih optimistis,” ujarnya.
Menurut Febri, optimisme ini muncul berkat kepiawaian Presiden Prabowo dalam bernegosiasi, yang menghasilkan kesepakatan tarif lebih menguntungkan dengan Amerika Serikat.
“Berkat kepiawaian Bapak Presiden Prabowo dalam bernegosiasi, Indonesia berhasil memperoleh tarif yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan negara-negara pesaing,” ungkapnya.
Selain itu, kemajuan perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dan revisi Permendag 8 Tahun 2024 juga dinilai sebagai faktor penting. Meskipun demikian, pelaku usaha masih menanti kejelasan teknis dari kesepakatan dagang dengan AS, khususnya terkait isu non-tarif.
“Saat ini industri menunggu kejelasan hasil negosiasi lanjutan antara Tim Negosiasi Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat, khususnya terkait isu non-tariff barriers (NTB) dan non-tariff measures (NTM),” tutur Febri, yang juga menyoroti perlunya perlindungan serupa untuk sektor di luar tekstil.
Febri juga menegaskan bahwa Kemenperin tidak menggunakan hasil PMI sebagai dasar perumusan kebijakan. Pihaknya lebih mengandalkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI), yang dianggap lebih representatif dengan sampel 3.100 perusahaan.
“IKI jauh lebih komprehensif karena melibatkan responden lebih banyak, dan kami melengkapi dengan data IKI ekspor dan domestik, serta analisis yang mendalam terhadap tren dan tantangan aktual di lapangan,” terang Febri.
Sementara itu, Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, mencatat bahwa data survei Juli masih menunjukkan indikator negatif pada kesehatan perekonomian sektor manufaktur Indonesia, di mana penurunan output dan permintaan baru masih berlanjut, meskipun mereda. Ia juga menyoroti tekanan inflasi biaya yang semakin intensif.
sumber : Kemenperin RI















