Perkuat Kedaulatan Digital dan Energi, RI-Malaysia Sepakati Kolaborasi Strategis Industri Semikonduktor

Kuala Lumpur, PR Politik – Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno, melakukan kunjungan kerja strategis ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada 30–31 Maret 2026. Pertemuan ini difokuskan pada penguatan ketahanan ekonomi dan energi kedua negara di tengah dinamisnya situasi geopolitik global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Wamenlu Havas bertemu dengan sejumlah pejabat tinggi Malaysia, termasuk Wamenlu Malaysia, Wakil Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri, serta Direktur Jenderal Majelis Keselamatan Negara guna membahas integrasi kawasan.

Salah satu poin krusial yang dibahas adalah ketahanan energi. Wamenlu Havas menekankan bahwa posisi Indonesia dan Malaysia sangat strategis karena memiliki sumber energi alternatif yang kuat, sehingga mampu meminimalisir ketergantungan pada pasokan dari Timur Tengah.

“Indonesia dan Malaysia beruntung karena memiliki sumber energi alternatif, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada Timur Tengah. Bauran energi kita juga cukup tinggi yang didukung dengan kerja sama antara BUMN migas kedua negara untuk mendorong diversifikasi crude oil,” tegasnya.

Selain energi, kedua negara sepakat memperkuat perdagangan antarprovinsi, khususnya di wilayah perbatasan. Hal ini disambut baik oleh pihak Malaysia yang mendorong peningkatan kontak dagang antara wilayah Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, serta Kalimantan dan Sulawesi dengan Sabah dan Sarawak.

Sektor teknologi menjadi sorotan utama dalam pertemuan dengan pelaku industri semikonduktor Malaysia. Kedua pihak sepakat untuk menggarap pasar-pasar khusus (niche markets) seperti pusat data (data center), otomotif, dan perangkat kesehatan. Fokus utama kolaborasi ini adalah memanfaatkan keunggulan Indonesia dalam desain chip untuk mendukung kedaulatan data (data sovereignty).

Wamenlu Havas menggarisbawahi bahwa penguasaan teknologi semikonduktor adalah harga mati bagi kedaulatan bangsa. Ia juga menyoroti pentingnya ketersediaan talenta muda dalam industri ini.

Baca Juga:  Wamendiktisaintek Fauzan Sebut Kerja Kolaboratif Merupakan Keniscayaan

“Kita tidak akan mungkin memiliki kedaulatan mandiri jika tidak membangun industri semikonduktor sendiri. Faktor penting lainnya dari semikonduktor adalah talent. Saya mendorong lebih banyak lagi pelajar Indonesia untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang relevan dengan sektor semikonduktor,” ujarnya.

Kunjungan ini juga dimanfaatkan untuk mematangkan jadwal Annual Consultation antara pemimpin kedua negara serta pertemuan Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) tingkat Menteri Luar Negeri yang direncanakan berlangsung pada tahun 2026.

Selain isu ekonomi dan teknologi, pembahasan juga mencakup keberlanjutan Community Learning Center (CLC) bagi anak-anak pekerja migran Indonesia serta penyelesaian isu perbatasan maritim guna menjaga stabilitas hubungan bilateral yang harmonis.

sumber : Kemlu RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru