Lampu Hijau Peningkatan Produksi Migas: Menperin Bahlil Siapkan Suntikan Teknologi dan Optimalisasi Sumur Tua

Jakarta, PR Politik – Pemerintah mempertegas komitmen untuk menggenjot lifting dan produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional guna memperkuat ketahanan energi. Meski capaian lifting minyak bumi tahun 2025 telah menyentuh angka 605,3 ribu barel—melampaui target APBN—Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa inovasi teknologi menjadi harga mati untuk mempertahankan tren positif tersebut.

Senjata utama yang disiapkan pemerintah mencakup penerapan teknologi lanjutan pada sumur-sumur eksisting, seperti Enhanced Oil Recovery (EOR), fracking, dan horizontal drilling.

“Untuk meningkatkan lifting, mau tidak mau, harus kita suntik dengan teknologi. Sumur-sumur yang sudah lama ini kita suntik pakai teknologi, nggak ada cara lain. EOR salah satunya,” ujarnya dalam Kuliah Umum Media Indonesia di Jakarta, Kamis (12/2).

Menyadari bahwa teknologi tingkat tinggi membutuhkan biaya besar, Pemerintah memberikan fleksibilitas bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Kini, para kontraktor bebas memilih skema kontrak antara Gross Split atau Cost Recovery guna menjaga keekonomian proyek.

Bahlil menekankan bahwa kebijakan ini diambil bukan semata-mata mencari keuntungan finansial bagi negara, melainkan untuk memastikan ketersediaan energi bagi rakyat.

“Negara itu tidak hanya bicara tentang berapa profit, negara itu nggak boleh bicara hanya profit oriented. Tapi negara juga harus bicara tentang pelayanan, ketersediaan, dan ketahanan. Kita ini melayani rakyat, bukan profit oriented. Kalau ada profit itu sunnatullah. Itu multiplier effect gitu,” tegasnya.

Langkah taktis kedua yang ditempuh adalah mengoptimalkan 6.305 sumur menganggur (idle well) yang masih memiliki potensi hidrokarbon. Dari jumlah tersebut, sebanyak 787 sumur siap direaktivasi dan 3.972 sumur lainnya terbuka untuk skema kerja sama.

Selain itu, Kementerian ESDM akan bersikap tegas terhadap para kontraktor yang telah mengantongi Plan of Development (POD) namun belum memulai konstruksi. Pemerintah tidak segan-segan mendesak KKKS yang menunda pekerjaan meskipun izin telah diberikan.

Baca Juga:  Mendikdasmen & Gubernur Jeju Jajaki Kerjasama Sekolah Ramah Lingkungan

Sebagai visi masa depan, pemerintah mengalihkan fokus eksplorasi ke wilayah Indonesia Timur. Untuk menarik minat investor, pemerintah menawarkan 110 blok migas potensial dengan paket insentif yang lebih menarik.

Strategi ini diharapkan dapat menemukan cadangan-cadangan raksasa baru ( big fish ) yang akan menjadi tulang punggung pemenuhan energi nasional di masa mendatang.

sumber : ESDM RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru