Cikarang, PR Politik (23/11) – Komisi VII DPR RI melakukan kunjungan kerja spesifik ke pabrik biskuit PT Mondelez Indonesia Manufacturing di kawasan industri Jababeka VII, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis (21/11/2024). Kegiatan ini bertujuan memperkuat pengawasan, mendengar masukan dari pelaku industri, serta membahas strategi pengembangan sektor industri dan UMKM.
Rombongan yang terdiri dari 15 anggota Komisi VII, termasuk unsur pimpinan, memulai kunjungan dengan diskusi bersama manajemen Mondelez dan kementerian terkait. Setelah itu, mereka meninjau langsung proses produksi biskuit di pabrik yang menjadi salah satu fasilitas unggulan Mondelez di Indonesia.
“Sudah menjadi fungsi kita untuk mengawasi penggunaan APBN, implementasi undang-undang, dan regulasi agar masyarakat dapat terakomodir. Karena itu, kami berdiskusi dengan pelaku industri,” ujar Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Daulay.
Saleh menekankan pentingnya mendukung sektor industri dan UMKM agar mampu bersaing di pasar global. Ia juga mengapresiasi kontribusi Mondelez sebagai salah satu perusahaan yang membawa nama Indonesia ke panggung internasional.
“Tantangan ke depan adalah menciptakan perusahaan yang semakin maju sehingga mampu menampung lebih banyak tenaga kerja, terutama generasi muda di tengah bonus demografi yang kita miliki,” tambah Saleh.
Dalam diskusi, Komisi VII juga menggali kisah sukses Mondelez dan mendengar tantangan yang dihadapi perusahaan untuk dijadikan masukan dalam perubahan kebijakan industri.
“Kami ingin dengar success story perusahaan ini. Kami juga ingin mendengar apa kendala yang dialami. Kasih tahu ke kami, nanti kami periksa. Mudah-mudahan bisa jadi referensi kami untuk kebijakan ke depan,” tegas Saleh.
Direktur Mondelez Indonesia Plant Cikarang, Zaenal Abidin, menjelaskan bahwa nama “Mondelez” berasal dari kombinasi kata “monde” yang berarti dunia dan “lez” yang berarti lezat. Filosofi ini mencerminkan misi perusahaan untuk “melezatkan dunia.”
Didirikan sejak 1996 di atas lahan seluas 43.000 meter persegi, pabrik ini menjadi bagian dari jaringan global Mondelez International yang memiliki lebih dari 100 pabrik di seluruh dunia. Dengan aset senilai Rp2,7 triliun, fasilitas ini mampu memproduksi hingga 300.000 ton biskuit per tahun, termasuk merek Oreo, dengan target produksi 86.000 ton hingga akhir 2024.
“Kami terus tumbuh berkat dukungan Kemenperin, baik dari segi perizinan maupun fasilitas. Sebanyak 70 persen produksi kami diekspor ke 39 negara, termasuk Asia Tenggara, Jepang, dan Australia,” ujar Zaenal.
Baca Juga: Aboe Bakar Al-Habsyi: Selamat untuk Pimpinan Baru KPK, Saatnya Gerak Cepat Berantas Korupsi
Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kementerian Perindustrian RI, Dyan Garneta Paramita, menyoroti peran Mondelez dalam meningkatkan daya saing industri makanan Indonesia di pasar internasional.
“Kehadiran Mondelez membantu produksi yang diterima dunia. Meski bahan baku seperti gandum masih diimpor, kami mendukung proses produksi melalui pemenuhan standar nasional,” ujar Dyan.
Ia juga mengungkapkan upaya pemerintah dalam mendukung keberlanjutan bahan baku cokelat dengan mendirikan pusat penelitian kakao di Pasuruan, Jawa Timur. Langkah ini diambil untuk mengatasi penurunan produksi kakao lokal dalam beberapa tahun terakhir.
“Kita pernah berjaya produksi kakao, tapi tiga-empat tahun terakhir menurun. Untuk menjaga keberlanjutan, kita juga mengimpor kakao,” tambahnya.
Kunjungan kerja ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah dan pelaku industri, sehingga sektor industri dan UMKM Indonesia dapat semakin maju dan berdaya saing global.
Sumber: fraksipan.com















