Genjot Ketahanan Pangan dan Kesehatan, RI-Tiongkok Teken 12 Kesepakatan Senilai USD 100 Juta

Shenzhen, PR Politik – Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) memasuki babak baru yang lebih transformatif. Dalam gelaran Indonesia-Southern China (Shenzhen) Synergy Forum (ISCSF) di Shenzhen, Senin (27/1), kedua negara berhasil menyepakati 12 dokumen kerja sama strategis dengan total nilai mencapai USD 100 juta.

Kerja sama yang difasilitasi oleh KJRI Guangzhou bersama PPIG dan HSBC Indonesia ini difokuskan pada penguatan sektor pertanian, kesehatan, sistem pembayaran digital, hingga infrastruktur digital.

Konsul Jenderal RI di Guangzhou, Ben Perkasa, menekankan bahwa Tiongkok Selatan merupakan mitra ideal bagi Indonesia karena statusnya sebagai pusat inovasi global.

“Wilayah Tiongkok Selatan menjadi salah satu pusat Research and Development (R&D) industri kesehatan dan pertanian, seperti penemuan benih padi hibrida dengan produktivitas tinggi dan obat-obatan serta alat kesehatan berteknologi canggih,” tegasnya.

Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Diplomasi Ekonomi, Zelda Wulan Kartika, menyampaikan bahwa sektor pangan dan kesehatan merupakan pilar utama dalam visi pemerintahan Presiden Prabowo. Indonesia saat ini tengah memacu modernisasi pertanian dan penguatan kapasitas produksi farmasi dalam negeri.

Dalam kerangka ini, RRT dipandang sebagai mitra potensial untuk percepatan inovasi melalui skema joint venture dan transfer teknologi. Hal ini diperkuat oleh data bahwa RRT merupakan investor asing terbesar ketiga bagi Indonesia dengan akumulasi investasi mencapai USD 37,2 miliar sejak 2020 hingga September 2025.

Duta Besar RI untuk RRT dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, menambahkan bahwa kerja sama kedua negara kini telah bergeser dari sekadar transaksi barang menjadi perdagangan inovasi dan pembangunan ekosistem.

“Proyek seperti kereta api cepat Jakarta-Bandung dan inisiatif ‘Two Countries Twin Parks’ merupakan cetak biru kemitraan Indonesia-RRT yang dimotori oleh teknologi tinggi dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Baca Juga:  KKP Dorong Tilapia Indonesia Tembus Pasar Global Melalui Revitalisasi Tambak Pantura Jawa Barat

Dari perspektif perbankan, Head of Market & Security Services HSBC Indonesia, Lenny Umarslamet, memproyeksikan makroekonomi Indonesia tahun 2026 tetap tangguh dengan prediksi pertumbuhan sebesar 5,2%. Keunggulan Indonesia sebagai pusat produksi regional menjadikan permintaan domestik sebagai mesin utama penarik investasi asing.

Wilayah Tiongkok Selatan, khususnya Provinsi Guangdong, memiliki peran vital sebagai gerbang perdagangan. Tercatat pada tahun 2025, nilai perdagangan Indonesia dengan wilayah ini mencapai USD 48,7 miliar, atau menyumbang sepertiga dari total perdagangan RI-RRT. Kedekatan geografis ini didukung oleh konektivitas udara yang kuat, dengan lebih dari 59 penerbangan langsung setiap minggunya yang menghubungkan kota-kota besar di Tiongkok Selatan dengan Indonesia.

Forum ini tidak hanya mempertegas peran RRT dalam rantai pasok global, tetapi juga memastikan standar keamanan produk tetap terjaga melalui pengawasan ketat dari BPOM RI guna menjamin perlindungan bagi masyarakat kedua negara.

sumber : Kemlu RI

Bagikan: