Manila, PR Politik – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Manila resmi meluncurkan kelas Pencak Silat gratis sebagai bagian dari strategi diplomasi soft power untuk memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara di Filipina. Kelas perdana yang digelar pada Sabtu (28/3) di Ruang Nusantara tersebut berhasil menarik antusiasme 35 peserta yang terdiri dari diaspora Indonesia dan warga setempat.
Program ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara KBRI Manila dengan Philsilat Sports Association. Kegiatan latihan rutin dijadwalkan setiap hari Sabtu pukul 15.30 hingga 17.00 waktu setempat.
Untuk menjamin kualitas pembinaan, KBRI Manila menghadirkan dua pelatih profesional, yakni Andi Zulkarnaen dan Ellvia Zahara. Keduanya merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini dipercaya mengemban mandat sebagai pelatih Tim Nasional Pencak Silat Filipina.
Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) RI Manila, Victorina Dewayani, menekankan bahwa pencak silat bukan sekadar seni bela diri fisik, melainkan media penanaman karakter dan nilai luhur bangsa.
“Pencak Silat sebagai olahraga tradisional Indonesia tidak hanya mengajarkan teknik bela diri, tetapi juga menanamkan nilai-nilai disiplin, sportivitas, serta memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada para peserta. Pembukaan Kelas Pencak Silat merupakan salah satu upaya (flagship program) KBRI untuk mempromosikan Pencak Silat di Filipina sebagai aset diplomasi soft power Indonesia dan mendukung upaya pemerintah untuk memajukan Pencak Silat di panggung global,” ujarnya dalam sambutan pembukaannya.
Kehadiran Sekretaris Jenderal Philsilat Sports Association dalam acara pembukaan tersebut mempertegas dukungan penuh otoritas olahraga setempat terhadap inisiatif ini. Pihaknya mencatat adanya ketertarikan yang sangat tinggi dari masyarakat Filipina untuk mempelajari pencak silat, namun terkendala oleh terbatasnya jumlah “padepokan” atau pusat latihan yang terbuka untuk umum.
Melalui program flagship ini, KBRI Manila berharap kelas tersebut tidak hanya menjadi wadah pelestarian budaya bagi diaspora, tetapi juga dapat merangkul warga asli Filipina (Filipino). Langkah ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antarmasyarakat (people-to-people contact) serta mengukuhkan posisi pencak silat sebagai warisan budaya dunia yang semakin gemilang di panggung internasional.
sumber : Kemlu RI















