Biaya Produksi Peternak Melandai, Kementan Catat Tren Penurunan Harga Pakan Unggas Nasional

Jakarta, PR Politik – Kementerian Pertanian (Kementan) membawa kabar baik bagi para pelaku usaha peternakan. Berdasarkan data periode Februari hingga awal Maret 2026, harga sejumlah jenis pakan ternak di tingkat produsen mengalami tren penurunan. Fenomena ini dinilai krusial karena komponen pakan mendominasi sekitar 60–70 persen dari total biaya produksi pada sektor peternakan unggas.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengungkapkan bahwa efisiensi biaya ini merupakan sinyal positif bagi keberlanjutan industri peternakan nasional.

“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan pada akhirnya turut menjaga stabilitas harga produk seperti ayam dan telur di tingkat konsumen,” ujarnya di Kantor Kementan, Jakarta, Kamis (5/3).

Melalui pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA), penurunan harga terjadi secara bervariasi pada pakan ayam pedaging (broiler) maupun ayam petelur (layer):

  • Pakan Broiler Starter (BR1): Turun rata-rata Rp112/kg (Rata-rata harga: Rp8.010/kg).

  • Pakan Broiler Pre-Starter (BR0): Turun rata-rata Rp82/kg (Rata-rata harga: Rp8.451/kg).

  • Pakan Broiler Finisher (BR2): Turun rata-rata Rp89/kg (Rata-rata harga: Rp7.967/kg).

  • Pakan Layer Produksi (P3): Turun rata-rata Rp86/kg (Rata-rata harga: Rp6.803/kg).

  • Konsentrat Layer (KP3): Turun rata-rata Rp74/kg (Rata-rata harga: Rp7.735/kg).

Meskipun trennya positif, Agung mencatat baru sekitar 38 persen atau 33 dari 87 pabrik pakan unggas yang melakukan penyesuaian harga. Pemerintah pun terus mendorong produsen lain untuk mengikuti langkah serupa.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian, kami terus melakukan pemantauan harga melalui sistem SPORA serta menjalin komunikasi dengan industri pakan. Penyesuaian harga ini merupakan langkah positif yang diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi biaya produksi peternak,” tambahnya.

Baca Juga:  Tinjau Sekolah Rakyat Di Solok, Menteri PU Sebut Permudah Akses Pendidikan Bagi Warga Miskin Di Dataran Tinggi

Sektor industri pakan melalui Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) menyatakan komitmennya dalam menjaga harga yang kompetitif. Ketua GPMT, Desianto Budi Utomo, menegaskan pentingnya koordinasi terkait ketersediaan bahan baku.

“Industri pakan terus melakukan penyesuaian agar harga pakan dapat lebih kompetitif. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang efisien sehingga dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan nasional,” katanya.

Stabilitas harga pakan ini tak lepas dari kebijakan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang memperkuat produksi jagung domestik. Mentan menegaskan bahwa Indonesia kini telah beralih dari pengimpor menjadi eksportir jagung.

“Tidak ada impor jagung khusus pakan. Bahkan kita sudah ekspor. Ekspor di Kalimantan Barat ke Malaysia. Juga kita ekspor ke Filipina. Dari NTB, dari Gorontalo. Jadi ada tiga tempat, dan Bapak Presiden lepas langsung,” tegasnya beberapa waktu lalu.

Strategi penguatan produksi jagung lokal ini diharapkan menjadi pondasi kuat untuk menekan biaya operasional peternak sekaligus memperkokoh ketahanan pangan di tingkat nasional.

sumber : Kementan RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru