Langkahan, PR Politik – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus mengintensifkan penanganan material sisa bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Fokus utama dalam sepekan terakhir adalah pembersihan fasilitas umum serta transformasi kayu hanyutan menjadi material bangunan untuk hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak.
Hingga Sabtu (17/1), tim gabungan telah membersihkan area seluas ±16,7 hektare di Kabupaten Aceh Utara dengan dukungan 40 unit alat berat dari Kemenhut, TNI, dan PUPR. Kayu-kayu yang terkumpul dari pembersihan tersebut dipilah secara ketat untuk kebutuhan konstruksi darurat.
“Pemanfaatan kayu sisa bencana ini tidak hanya mempercepat pemulihan lingkungan, tetapi juga membantu penyediaan hunian sementara bagi warga terdampak,” ujar Kepala Balai Besar TN Gunung Leuser, Subhan. Hingga saat ini, sebanyak 24 unit huntara telah dibangun di Desa Geudumbak, di mana enam unit di antaranya sudah mulai ditempati oleh warga.
Di Sumatera Utara, Kemenhut mencatat volume kayu olahan yang berhasil diproduksi dari sisa banjir mencapai 28,1147 meter kubik. Material ini langsung disalurkan ke titik-titik krusial seperti Desa Batu Hula dan dapur umum untuk menunjang aktivitas sosial masyarakat.
Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita, menegaskan bahwa efisiensi pengolahan kayu menjadi prioritas agar material tidak membusuk atau disalahgunakan.
“Kami mendorong percepatan pemanfaatan kayu hanyutan melalui penambahan operator chainsaw serta penyusunan mekanisme pengelolaan kayu mulai dari identifikasi, pengumpulan, hingga pemanfaatan,” katanya.
Selain fokus pada material kayu, Kemenhut bersama PUPR tengah memacu normalisasi Sungai Garoga untuk mencegah banjir susulan. Patroli rutin dilakukan untuk memastikan tidak ada sumbatan kayu baru di hulu sungai yang dapat mengancam integritas Jembatan Garoga 1 dan 2.
Sejauh ini, pembersihan sumbatan sungai telah mencapai ±2,868 kilometer atau sekitar 54,11 persen dari total target sepanjang 5,3 kilometer. Dengan beroperasinya 10 unit alat berat, aliran sungai dilaporkan mulai kembali berfungsi normal. Kemenhut menegaskan bahwa seluruh proses penataan kayu sisa bencana akan dilakukan secara transparan dan berorientasi sepenuhnya pada kepentingan publik.
sumber : Kemenhut RI















